MOBIL NASIONAL, ANTARA REALITAS, HALU DAN EFFORT MANDIRI

Mobil Nasional adalah mimpi yang belum tuntas, banyak harapan yang ingin segera direalisasikan tapi terganjal berbagai hal. Dulu tahun 1996 ada sedan KIA Sephia dari Korea Selatan yang diganti nama menjadi Timor, ada Hyundai Cakra, tahun 2014 ada SMK yang rencana diproduksi masal, tapi gagal, dan itu sama juga dengan tahun 1996, itu adalah mobil Tiongkok yang direbranding.

Sebenarnya sudah banyak contoh negara - negara Asia yang awalnya belajar membuat mobil dan akhirnya jadi produsen mobil. Contoh Malaysia dengan Protonnya, walaupun merek ini tidak seberapa laku di luar Malaysia namun mobil nasional malaysia ini masih merajai jalanan Malaysia. Dan ternyata dulunya adalah kerjasama dengan mitsubishi, sebut saja  Hyundai dan KIA Motor Korea, dulu belajarnya kepada General Motor Amerika, tapi sekarang sudah mampu membuat mobil yang keren dan mendunia, India dengan Tata Motor dan Mahendra juga termasuk mobil kebanggaan warga Prindavan. Pertanyaannya Indonesia Kapan?

Indonesia dengan SDA dan SDMnya yang melimpah ruah  sebenarnya sangat mudah untuk membuat mobil karya anak bangsa, tapi willnya yang tidak ada. Biji besi melimpah, karet melimpah, biji timah, biji untuk baterei, biji baukit melimpah bahkan besi daur ulang juga melimpah, lulusan teknik tiap tahun juga melimpah tapi kok sampai hari ini tidak ada realisasinya. Menurut saya banyak faktornya.

Pertama :  Nasionalisme terhadap produk dalam negeri masih kurang. Lebih suka produk luar yang sudah proper, dan membanggakan ciptaan negara lain. Kalaulah mau bersabar sebentar maksimal 5 tahun disertai pengembangan dan perbaikan saya yakin kita bisa membuat kendaraan nasional sendiri dan bisa bersaing dengan negara lain.

Kedua : Birokrasi dan dukungan stake holder yang kurang memadai. Mereka lebih suka menjadi makelar yang langsung dapat untung dari pada ngoyo dan rekoso memproduksi mobil sendiri. Uji emisi dan perijinan yang ruwet bin mbulet membuat produsen lokal enggan melirik, bahkan bisa - bisa insentif dan kemudahan izin  mobil dari luar lebih mudah dari pada produsen dalam negeri.

Ketiga : Mungkin produsen otomotif yang sudah settle dan proper di Indonesia tidak mau kalau mereka tersaingi produk dalam negeri. Intinya kita dininabobokan jangan sampai kita jadi negara produsen tapi jadi negara konsumen saja, mulai produk dari ujung rambut sampain ujung kaki. Jangan sampai jadi negara yang mandiri dan bermartabat. Menurut ada bagaimana guys. Mobnas itu akan terus jadi mimpi, bahkan halusinasi sampai yaumil akhir atau cita - cita ini bisa terealisasi. Semuanya tergantung kita.
Timor tahun 1997 adalah KIA yang direbrand
By : Azeez Nash (pemerhati otomotif)

Comments

Popular posts from this blog

Pilih mana, mobil Seken mewah yang harganya miring atau Mobil baru kelas menengah ?

TRANS JATIM, INOVASI MODA TRANSPORT YANG PRO RAKYAT

ANTAR PABRIKAN OTOMOTIF TIDAK HARUS BERSAING TAPI BERKOLABORASI